Java Jazz Festival 2013: Pesta Masyarakat Jazz Indonesia

At last, kesampaian juga nonton Java Jazz Festival!!! Setelah dari dulu kepengen mencicipi rasanya pergelaran musik jazz terbesar di Indonesia ini.

Saya datang ke JJF2013 hari kedua, Sabtu, 2 Maret 2013, bersama enam orang teman saya. Karena JJF2013 di Jakarta dan domisili saya saat ini di Bandung, jadilah saya tancap gas Bandung-Jakarta. Saya dan tiga orang lainnya sampai di JIExpo (daerah PRJ Kemayoran) sekitar jam 2an. Pemandangan pertama yang disuguhkan bukanlah penampilan musik, melainkan calo-calo yang menjajakan tiket masuk JJF2013. Sedih sebenarnya melihat fenomena ini, tapi ya sudahlah…namanya juga usaha untuk mencari uang.

Kami pun memasuki venue JIExpo. Karena show pertama mulai jam 15.00 WIB jadi kami memutuskan untuk muter-muter dulu. Selain penampilan dari musisi Jazz lokal dan internasional, ada arena permainan dan toko suvenir.

Sekitar jam 16.00 WIB kami memutuskan untuk memasuki ruangan yang sedang menampilkan show dari Amboina. Awalnya kami tidak  tahu apa-apa tentang Amboina. Ternyata Amboina ini dipunggawai oleh Indonesian Living Legends, ada Oelle Pattiselanno(gitar), Jeffrey Tahalele(bass), Benny Likumahua(trombone), dan Jack Pattiselanno(drum). Menariknya, Om Benny membagikan sedikit pengetahuan mengenai elemen musik Jazz sebelum memainkan beberapa lagu. Di penampilan kali ini, Amboina juga mengajak seorang penyanyi muda untuk memeriahkan suasana. Amboina ft. Monita Tahalea ini membawakan dua buah lagu, salah satunya adalah Sio Mama.

Setelah puas dengan penampilan dari musisi lokal, kami pun berpindah ruangan. Kali ini kami menyaksikan penampilan dari George Duke dan Stanley Clarke. Mereka memainkan lagu klasik seperti School Days serta medley Born To Love You dan Sweet Baby. Alunan lagu yang dimainkan kedua musisi ini benar-benar menghipnotis para penonton, belum lagi solo performance mereka yang mencengangkan.

Berhubung waktu sudah melewati jam 6 sore, kami memutuskan untuk istirahat sejenak sembari makan malam. Beberapa orang dari kami, termasuk saya, juga menyempatkan waktu untuk membeli beberapa suvenir. Ada berbagai jenis suvenir dijajakan di JJF2013 ini, seperti tas, sweater, baju, bag tag, sampai gantungan kunci.

Kami pun melanjutkan “perjalanan” kami. Kali ini kami tidak lagi menonton penampilan yang ada di dalam ruangan, melainkan di panggung terbuka. Indro Hardjodikoro The Fingers feat. dr. Tompi menampilkan perpaduan antara musik Jazz dengan musik tradisional. Tambahan permainan suling dan gendang memberikan rasa yang unik terhadap lagu yang dibawakan, semacam JazzDut(Jazz Dangdut). Salah satu lagu baru yang menjadi project mereka, Gadis Sanghai.

Indro H. dan dr. Tompi

Indro H. dan dr. Tompi

Selesai dari sana kami menuju ruangan D1 Telkomsel Simpati Hall yang menjadi panggung dari D’Masiv Jazz Project. Di sini D’Masiv bermain bersama beberapa musisi seperti Barry Likumahuwa dan Mus Mujioni. D’Masiv membawakan beberapa lagu miliknya, seperti Rindu Setengah Mati, yang diaransemen ulang. Saya tidak menonton penampilan mereka sampai habis. Saya keluar ditengah-tengah penampilan karena saya mengejar penampilan di ruangan lain.

D'Masiv Jazz Project

D’Masiv Jazz Project

Saya dan beberapa orang teman saya menuju A3 BNI Hall. Penampilan di ruangan inilah yang menjadi tujuan utama saya datang ke JJF2013. Sesampainya disana masih ada penampilan dari musisi lain. Saya akhirnya menunggu sambil mencari tempat yang paling enak untuk melihat penampilan nantinya. Akhirnya, sekitar jam 22.30 WIB layar panggung A3 BNI Hall dibuka dan muncullah…..Marcus Miller!!!!

Marcus Miller @JJF2013

Marcus Miller @JJF2013

Saya sangat mengidolakan pemain bass legendaris asal Amerika Serikat ini. Marcus Miller memberikan permainan bass yang luar biasa.  Mulai dari alunan melodi yang lembut sampai teknik slap yang penuh semangat. Beliau membawakan beberapa lagu bertipe funk dari album terbarunya Rennaisance seperti Mr. Clean dan Detroit. Selain bermain bass, Marcus Miller juga bermain bass clarinet saat membawakan lagu “Gorée” (Go-ray). Lagu ini terinspirasi dari kunjungan Marcus Miller ke sebuah daerah di pesisir Dakar di Senegal yang dikenang sebagai tempat penyimpanan budak sebelum dikirim ke luar Afrika. Marcus Miller juga mendapatkan Best Icon Award karena jam terbang dan kontribusinya di Java Jazz Festival. Marcus Miller sangat piawai “mempermainkan” emosi dari penonton lewat petikan-petikan bassnya.

Setelah puas menyaksikan penampilan dari Marcus Miller, kami kembali menuju ke D1 Telkomsel Simpati Hall untuk menyaksikan Fourplay. Penampilan dari Fourplay ini menjadi penutup yang sangat tepat untuk perjalanan kami kali ini. Alunan-alunan lembut dari nomor-nomor seperti December Dream, Max O Man, Chant, dan Sonnymoon bisa mengangkat kelelahan dari perjalanan seharian. Menariknya mereka melakukan tiga kali encore, salah satunya adalah 101 Eastbound.

Jujur saya sangat merasa puas dengan Java Jazz Festival 2013 ini. Meskipun saya harus bolak balik Bandung-Jakarta dan hanya bisa datang pada hari kedua, saya sangat menikmati semua penampilan yang saya datangi hari itu.  Kalau tahun depan diberi kesempatan, saya sangat ingin datang lagi ke Java Jazz Festival ini.

N.B: Menonton Java Jazz Festival tanpa persiapan iman dapat menyebabkan trance, kecanduan, dan frustrasi terhadap kemampuan bermain alat musik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s