Teater Epik Vol.5: Taraksa

Poster-TARAKSA-pementasan-teater-epic-vol.-5-676x1024

Taraksa menjadi tema yang kali ini diusung oleh Teater EPIK. Taraksa bercerita tentang pengorbanan seorang pria melalui rintangan apapun demi mendapatkan kembali wanita yang dicintainya. Taraksa, sang tokoh utama, menembus enam lapisan langit untuk menjemput kembali Chiandra yang menjadi kurban pengisi Sang Rembulan. Namun, perjalanan itu tidaklah mudah. Ada cobaan di setiap lapisan langitnya. Meski terus menembus sampai lapisan langit terakhir, Chiandrakah yang ada disana? Untuk cerita lengkapnya, bisa dilihat di website Taraksa.

Ini adalah pertama kalinya saya menonton teater secara langsung. Namun, saya bisa tahu bahwa Taraksa bukan sekedar pementasan teater biasa. Di luar teater panitia menyediakan berbagai suvenir sebagai kenang-kenangan. Saya melihat animo yang luar biasa dari penonton. Sesaat setelah open gate, kursi-kursi yang ada di Teater Tertutup – Dago Tea House sudah dipenuhi oleh penonton.

Selain itu, penonton tidak hanya dibiarkan menunggu sampai pementasan dimulai. Di masa open gate, penonton diberikan “pemanasan”. Penonton dibuat seolah-olah menjadi warga Ahimsa. Warga Ahimsa yang asli terus berinteraksi dan berkeliaran di sekitar penonton.

Teater ini mencoba menembus batasan-batasan yang ada. Ketika pementasan, area penonton juga menjadi bagian dari panggung pementasan. Para pemain musik yang hadir secara langsung dan komposisi musik yang luar biasa serta efek visual yang diberikan bukan sekedar pelengkap pementasan ini. Minimnya dialog dari pementasan ini tidak menghambat penyaluran rasa dan makna kepada penonton.

Langit ke -

Langit ke – 1

Pada akhir pementasan dapat terlihat ekspresi puas dari penonton dan pemain. Ekspresi kebahagiaan terpancar dengan jelas dari para pemain yang telah menuntaskan kewajibannya. Namun, lagi -lagi penonton diberikan kejutan. Sesaat setelah pementasan selesai, layar tertutup sesaat. Ketika layar terbuka, situasi panggung sudah seperti awal cerita. Chiandra masih ada di Ahimsa dan menari bersama warga lainnya. Namun, ketika Taraksa menerima ajakan dansa semua orang membeku kecuali dirinya dan Taraksa mengeluarkan kata-kata terakhir.

Akhir yang bahagia

Akhir yang bahagia

Teater ini mematahkan mindset saya bahwa teater tidak akan lebih menarik daripada menonton film-film jaman sekarang. Pementasan ini sarat makna. Bahwa penyesalan selalu datang terlambat, seharusnya kita tidak menyerah kepada takdir dan memperjuangkan cinta sejauh apapun.

Andai waktu itu kuterima dansanya – Taraksa

After Credit

Saya beruntung menonton pementasan penutup, karena ada after credit khusus. Pemeran Taraksa ingin menentang kisah yang dimainkannya. Taraksa menembak Chiandra diatas panggung di tengah-tengah pemain yang lain. Gayung pun bersambut dan kisah mereka berakhir dengan indah.

Taraksa "melanjutkan" Chiandra

Taraksa menentang “takdir”-nya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s